"Mendekatkan si kecil dengan kampung bapaknya" sebenarnya hanya alasan. Atau dalih yang saya sampaikan ke istri untuk "m...

YANG LAMA YANG BERKESAN


"Mendekatkan si kecil dengan kampung bapaknya" sebenarnya hanya alasan. Atau dalih yang saya sampaikan ke istri untuk "membujuknya" memberikan persetujuan ngetrip "biar Glou (nama putri saya) lebih tahu dan lebih mengenal disinilah bapaknya bertumbuh, bermain, memanjat pohon, berenang menyebrang sungai Kapuas, menangkap ikan, berburu, berak, kencing, menyadap karet, mencari rotan, dan lain sebagainya" juga sesuatu yang dibuat-buat.

Misi sebenarnya adalah mnyegarkan kembali memori indah yang sudah lama terserak. Kenangan yang layak untuk diabadikan. Ya, kampung yang pernah saya tinggali selama 19 tahun ini memberikan banyak ingatan-ingatan indah, teman yang baik, tetangga yang murah senyum, masyarakatnya yang istimewa, dan mantan yang aduhai (hehehe..). Pada tahun 2007 kenangan itu kemudian terputus.

Dua belas tahun lalu saya meninggalkan kampung ini. Mencari peruntungan di negeri perantauan. Ingin merubah nasib. Tidak jauh memang, masih ke wilayah dengan kultur sosial yang kurang lebih sama. Tapi jarak-tak-jauh itu dengan kejam tidak memberi waktu yang banyak untuk saya kembali mencari makna hidup dengan saudara sekampung. Ia mengekang kaki-kaki saya untuk berlari, kembali membangun memori-memori yang manis, merekatkan kembali jalinan silaturahmi dengan saudara-saudara di sana. Sesekali saya hanya diberi kesempatan "mampir" barang satu dua malam.

Kampung ini sudah banyak berubah. Banyak hal-hal baru yang dimilikinya. Tapi, layaknya desa pada umumnya, dia berbenah tapi tidak bersolek. Dia memberi "solusi" sekaligus menciptakan "masalah" baru bagi kehidupan warganya. Dan sepertinya, dia menjadi besar untuk mengecilkan warganya (??).

0 komentar: