As the pains growing up
Seandainya saja, Mir, hanya ada orang baik belaka yang akan membantumu menanam sayur, yang akan mengajarimu memasak, mengajarimu menari, mengajarimu berdandan. Mengajarimu bahasa. Mengajarimu berhitung. Seandainya tidak ada penghujan tidak ada kemarau. Tidak ada siang tidak ada malam. Tidak ada malaikat. Tidak ada tuhan. Tidak ada iblis. Tidak ada kamu tidak ada aku. Seandainya, Mir. Seandainya.
Seandainya seandai tidak ada. Tidak ada seandai tidak ada kalau. Atau walau. Atau mungkin. Atau waktu. Seandainya tidak ada benci. Seandainya semuanya tidak ada. Seandainya tidak ada apapun, apakah tuhan masih ada, Mir? Tapi seandainya itu memang tidak ada kan, Mir?
Mir?
Kemarin juga tidak ada. Nanti juga tidak ada. Besok juga tidak ada. Yang ada hanya sekarang. Sekarang? Dan ada Aku yang sekarang, bukan Aku yang nanti. Tapi Aku yang kemaren bagaimana, Mir? Aku yang kemaren lah yang menyakiti Aku yang sekarang. Bukan. Bukan! Tapi kamu, Mir. Kamu! Kamulah orang yang meninggalkanku. Dengan pikiran ini. Dengan khayal ini. Dengan sakit ini. Dengan tembok ini. Dengan waktu ini. Dengan iman ini. Dengan kata-kata ini.
Kata-kata ini hantu, Mir. Dia terus saja ada. Menghantuiku. Kata-kata tidak pernah habis. Entah siapa yang memproduksinya dalam otakku ini. Ia selalu ada. Dia berteriak. Mendesakku. Meminta segera dikeluarkan. Pernah aku membentaknya, Dia melawan dan melukaiku. Kadang Aku berpikir akan lebih baik seandainya Kata tidak pernah ada. Tidak ada bahasa. Tidak ada lidah. Tidak ada suara. "Tanpa suara kisah percintaan ini tidak akan menggairahkan, Di." Begitu katamu, Mir. Kau pernah mengucapkan itu. Ada apa denganmu, Mir? Seandainya tidak ada Firman, kata-katamu, Mir, Aku pasti akan lebih baik. Aku pasti tidak akan berbicara dengan tembok-tembok ini.
Mir?