Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Tak berapa lama hujan turun kembali Membasahi setiap harapan yang telah mengering Menenangkan hati yang semakin gelisah Hidup di ...



Tak berapa lama hujan turun kembali
Membasahi setiap harapan yang telah mengering
Menenangkan hati yang semakin gelisah
Hidup di tengah kemarau akhlak
Rasa kemanusiaan telah berlumut

Lihat.....!!
Lihatlah............!!
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Dewi Ibu Pertiwi
Tanah luhur, tanah Dayak, tanah para pemberani
Dibakar habis, dilahap api nafsu bara membara
Demi materi dan kuasa

Lihat.......!
Lihatlah...........!
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Sang Putra Asang
Putra-putri-Nya
Menangis
Meronta
Pergi
Lapar
Dan mati
Di tanah leluhur tumpah darahnya sendiri

Hidup hanya menunggu mati
Sekali berarti kemudian kalah tak bermakna
Hidup hanya menunggu mati
Tuhanpun kini meninggalkan kita, pergi!


Jakarta, tanggal tidak tercatat
Tinue Laut

Dengarlah nyanyian sunyiku Suara risau bait resahku Duka-luka padaku Meredupkan cahaya terang pagi Kesepian datang mengirisku pi...


Dengarlah nyanyian sunyiku
Suara risau bait resahku
Duka-luka padaku
Meredupkan cahaya terang pagi
Kesepian datang mengirisku pilu

Kerinduan itu......
Bagai gelap malam hari
Merangsek masuk membunuh warasku
Menyalakan gelisah, sedih, dan sunyiku
Membutakan mata sehat akalku

Seandainya cinta-MU
Serupa lilin-lilin yang menyala memerangi gelap,
Seperti air memadamkan kobaran amarah,
Sebagaimana rahim ibu: merawat kehidupan, meneguhkan yang lemah dan rapuh.

"Tidak perlu lagi kau senandungkan aku melodi-melodi gelisahmu itu."
Begitu katamu suatu senja.
Kau sengaja membiarkanku jatuh ke dalam lumpur-lumpur kepedihan.
Bermain bersama debur ombak kepahitan.

Biarlah,
Kutenggelamkan semua rasa ini
Menikmati indahmu dari kejauhan.

Kukepalkan impian
Pekik dan derap langkah menghalau kerisauan
Aku pasti tak akan bercerita pada tembok gereja ini.


Palangka Raya, 25 Januari 2020
Tinue Laut

Ranting-ranting yang patah Dan harapan-harapan Yang lelah,.... Hilang, Lalu mati. Dari mana dan kemana kita kan berlari? O...


Ranting-ranting yang patah
Dan harapan-harapan
Yang lelah,....
Hilang,
Lalu mati.

Dari mana dan kemana kita kan berlari?
Orang-orang kecil yang terhimpit peti mati
Ke lautan ratapan yang mungkin tidak lagi bertepi?
Apa kini yang tersisa?
Selain harapan dan mimpi?


Palangka Raya, 24 Januari 2020
Tinue Luut

Dalam ruang gelap.... "Ada Tuan, sang Penguasa?" Menari di bahunya, Jerami. "Siapakah aku, wahai Engkau yang maha meng...


Dalam ruang gelap....
"Ada Tuan, sang Penguasa?"
Menari di bahunya, Jerami.
"Siapakah aku, wahai Engkau yang maha mengetahui? Mengapa Engkau menimpakan hina itu ke mukaku, hai kekasih hatiku?

Dalam ruang gelap, kosong!!
Campakkan cintamu pada selainnya
Kosongkan hatimu sebagai tempat pada selainnya.
untuk Dia maha kasih..
kepadanya, sang maha cinta

Dia yang berada di segela ruang
Meninggalkan kita sendirian
Membiarkan kita membasuh luka-luka perih ini sendirian
Pada apakah hatiku tertambat selain luka dan air mata?
Selain mati dan kecewa dan mengering dan sengsara.
Karena Dosa?  Dia pergi dan tidak kembali.

Seharusnya kau tak perlu mengutukiku, tuan.
Menimpakan butir-butir kehinaan itu di mukaku.
Menjadikan aku segala sebab kerusakan moral manusia, makhluk yang tak pernah kukehendaki kau jadikan.




Dalam Perjalan ke Muara Teweh
Tanggal tidak tercatat

Ku pejamkan mata Menerawang mimpi-mimpi indah... Membawa angan-anganku naik keatas... Memaksaku untuk meraihnya... Hidup tidak ...

Ku pejamkan mata
Menerawang mimpi-mimpi indah...
Membawa angan-anganku naik keatas...
Memaksaku untuk meraihnya...

Hidup tidak semulus air melewati daun keladi...
Goresan demi goresan ku hadapi...

Ya Tuhan...
Kuatkan akan imanku..
Tetap luruskan langkahku...
Untuk selalu tertuju padaMu

Ya Tuhan...
Engkau dimana?
Ku rindu hadirMu...
Ku rindu jamaahMu...
Ajarkan aku selalu berada dijalanMu



Palangka Raya, 25 Januari 2020
Lili Bellelove

Ku termenung sendiri... Duduk terdiam lemah terpaku... Kuratapi tapi tidak ada air mata... Inginku berteriak...! Meronta....! ...


Ku termenung sendiri...
Duduk terdiam lemah terpaku...
Kuratapi tapi tidak ada air mata...

Inginku berteriak...!
Meronta....!
Kumenangis...!
Tidak ada yang peduli...

Ayah...ibuuu...!
Aku lelah...!
Aku sakit...!
Bawalah aku bersama mu...

Ayah.. ibu...
Aku rindu kasih sayang mu...
Aku rindu tentang kita
Ayaahhh... ibuuu...
Aku rinduuuu...



Palangka Raya, 25 Januari 2020
Lili Bellelove

Tak berapa lama hujan turun kembali Membasahi setiap harapan yang sudah mengering Menenangkan hati yang semakin gelisah Hidup di ten...


Tak berapa lama hujan turun kembali
Membasahi setiap harapan yang sudah mengering
Menenangkan hati yang semakin gelisah
Hidup di tengah kemarau akhlak
Rasa kemanusiaan telah berlumut

Lihat
Lihatlah
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Dewi Ibu Pertiwi
Tanah luhur, tanah Dayak, tanah para pemberani
Dibakar habis, dilahap api nafsu bara membara
Demi materi dan kuasa

Lihat
Lihatlah
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Sang Putra Asang
Putra-putri-Nya
Menangis
Meronta
Pergi
Lapar
Dan mati
Di tanah leluhur tumpah darahnya sendiri

Hidup hanya menunggu mati
Sekali berarti kemudian kalah tak bermakna
Hidup hanya menunggu mati
Tuhanpun kini berlalu pergi