Suara-suara itu menghilang. Kalah dengan pikirannya, yang entah kenapa, lebih ribut lagi membayangkan sesuatu yang akan ditemuinya nanti. "Matanya bersinar, pipinya pauh dilayang, delima merekah bibirnya, hidungnya dasun tunggal, lehernya jenjang, dadanya........" Bukit-bukit pasir pikirannya bergejolak ditiup desir angin lamunannya.
Ada sepasang kupu-kupu berkejar-kejaran. Sekejap hinggap di bunga-bunga berbagai warna. Berayun-ayun di bawah langit sore yang sudah berwarna api. Kawanan burung Enggang melintas. "Mungkin mereka ingin pulang. Pulang? Ke rumahnya? Bukankah alam inilah rumah mereka? Kata pulang kurasa tidak tepat." Alam adalah rumah bagi mereka dan segala jenis binatang. Tuhanlah yang memberi hak. Manusialah yang merampas. "Tidak tahu malu."
Semburan asap kretek keluar dari mulutnya. Masih sisa satu batang. "Besok aku harus bekerja lagi untuk mengasapi mulutku. Ya, begitulah aku seharusnya menjalani hidup."
Suara-suara orang di sekelilingnya, ada 5 atau 7 orang mungkin, dia tidak perduli, semua perempuan, berkeringat, menghilang. Yang terlihat hanya seungguk daging kenyal berkomat-kamit tanpa suara. Bisu. Seperti suara burung Enggang yang tadi mengepak-ngepakkan sayap di atas langit yang mulai memerah yang lenyap seiring tak terlihatnya bulu-bulu hitam legamnya tertutup pohon-pohon tinggi yang berjejer diatas bukit batu. Daun-daunnya melambai-lambai menandakan mereka ingin menyerah menjalani hidup yang teramat keras ini. "Lihatlah sekeliling kami, sebentar lagi kamipun akan bernasib sama." Begitu mungkin maksud pepohonan itu yang bisa dimaknai oleh Tras.
Taman di sebelah kiri dari tempatnya duduk terlihat menarik hati. Berwarna-warni. "Mengapa bunga-bunga ini berbeda warna? Apakah penyebabnya sinar matahari yang juga berwarna-warni? Begitukah si Tukang Taman mendisainnya? Menempatkan bunga beda warna sekenanya tapi indah dipandang mata. Sengajakah Ia menempatkan demikian sehingga perannya tak kasatmata?" Benak Tras menjadi benang kusut. Bayangan bidadari Surganya dikaburkan oleh pikiran remeh temeh, yang menurutnya tidak kalah penting dengan memikirkan nasib negeri ini dan negeri-negeri lain yang mengerkah negeri ini.
Tapi kupu-kupu itu. Apakah mereka benar berpasangan? Si jantan seperti ingin memikat se betina. Atau mungkin ingin mengigitnya? Meremuknya? Saling memangsa atau beradu kekuatan?
"Aku tidak tahu banyak mengenai diri sendiri, kenapa aku harus memikirkan pikiran seperti ini?" Ia sangat terkejut mengucapkan kalimat aneh itu.
"Yang kutemui nanti....."
Terbentang lagi pikiran itu. Ia sekarang berhadapan dengan pikirannya sendiri, berusaha membunuhnya. Pikiran yang tidak diinginkannya sama sekali tapi menyenangkan ketika pikiran itu datang.
"Aah..."
"Yang kutemui nanti..."
Ia membayangkan wajah gadis itu seperti suasana yang selalu digambarkan orang tentang surga. "Bukan. Ia bisa jadi seorang penghuni surga. Atau, mungkin penguasa surga? Mungkin saja. Setidaknya begitu orang mengatakannya, ada seorang raja, atau ratu, yang bertahta disana. Berkuasa tiada berbatas. Ungkapan yang membuat setiap orang merindukanNya, seperti Adam yang sepi sendiri merindukan pendampingnya lalu diciptakanlah Siti Hawa. Begitu seharusnya Tuhan menjawab setiap doa. Memberi tanpa pamrih, dipuji-puji. Atau begitu seharusnya orang berdoa, seperti Adam, meminta hanya yang perlu.
Begitu seharusnya Tuhan menjawab setiap doa, memberi tanpa harus memperhitungkan seberapa besar ia dapat kembali: puji-pujian dan ketaatan. Tidak ada gunanya, menurut Tras, pemberian yang sedikit ini jika diberikan kepada yang Maha Memiliki.
"Tapi apa hakku menilai Tuhan? Bukankah ciptaan tidak pernah lebih baik dari Yang Menciptakan?" Tras kembali memikirkan pikiran lain. Otaknya, menurutnya, bagai bukit-bukit pasir di padang gurun, angin sepelan apapun bisa membawanya kemana-mana. Kabut tebal menyelimuti hatinya. Pikirannya.
"Tras, pergilah ke dalam gua. Tenangkan pikiranmu disana. Berlindunglah di bawah kakiNya."
Suara Sahabat, yang menurut pikirannya, adalah suara yang harus diterimanya, apa saja, karena memang seharusnya demikian.