Seberapa besar kah IQ mu? Coba tes IQ mu sekarang disini  http://memorado.eu/iqtest Tulis hasil tes mu di kolom komentar yaa... Selamat...

SEBERAPA CERDASKAH KAMU? TES IQ MU SEKARANG!

Seberapa besar kah IQ mu? Coba tes IQ mu sekarang disini http://memorado.eu/iqtest

Tulis hasil tes mu di kolom komentar yaa...
Selamat mencoba....

2 komentar:

Aplikasi Kinemaster terbaru download gratis di link berikut https://bit.ly/kinemasterProV413 Selamat mencoba aplikasi editing vid...

DOWNLOAD KINEMASTER PRO V 4.13 GRATIS

Aplikasi Kinemaster terbaru download gratis di link berikut


Selamat mencoba aplikasi editing video android terbaik

CATATAN: 
PASSWORD SILAKAN DILIHAT DI CHANNEL YOUTUBE: TINUE LAUT

0 komentar:

Tak berapa lama hujan turun kembali Membasahi setiap harapan yang telah mengering Menenangkan hati yang semakin gelisah Hidup di ...

LIHATLAH..!!!



Tak berapa lama hujan turun kembali
Membasahi setiap harapan yang telah mengering
Menenangkan hati yang semakin gelisah
Hidup di tengah kemarau akhlak
Rasa kemanusiaan telah berlumut

Lihat.....!!
Lihatlah............!!
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Dewi Ibu Pertiwi
Tanah luhur, tanah Dayak, tanah para pemberani
Dibakar habis, dilahap api nafsu bara membara
Demi materi dan kuasa

Lihat.......!
Lihatlah...........!
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Sang Putra Asang
Putra-putri-Nya
Menangis
Meronta
Pergi
Lapar
Dan mati
Di tanah leluhur tumpah darahnya sendiri

Hidup hanya menunggu mati
Sekali berarti kemudian kalah tak bermakna
Hidup hanya menunggu mati
Tuhanpun kini meninggalkan kita, pergi!


Jakarta, tanggal tidak tercatat
Tinue Laut

Dengarlah nyanyian sunyiku Suara risau bait resahku Duka-luka padaku Meredupkan cahaya terang pagi Kesepian datang mengirisku pi...

SUARA-SUARA


Dengarlah nyanyian sunyiku
Suara risau bait resahku
Duka-luka padaku
Meredupkan cahaya terang pagi
Kesepian datang mengirisku pilu

Kerinduan itu......
Bagai gelap malam hari
Merangsek masuk membunuh warasku
Menyalakan gelisah, sedih, dan sunyiku
Membutakan mata sehat akalku

Seandainya cinta-MU
Serupa lilin-lilin yang menyala memerangi gelap,
Seperti air memadamkan kobaran amarah,
Sebagaimana rahim ibu: merawat kehidupan, meneguhkan yang lemah dan rapuh.

"Tidak perlu lagi kau senandungkan aku melodi-melodi gelisahmu itu."
Begitu katamu suatu senja.
Kau sengaja membiarkanku jatuh ke dalam lumpur-lumpur kepedihan.
Bermain bersama debur ombak kepahitan.

Biarlah,
Kutenggelamkan semua rasa ini
Menikmati indahmu dari kejauhan.

Kukepalkan impian
Pekik dan derap langkah menghalau kerisauan
Aku pasti tak akan bercerita pada tembok gereja ini.


Palangka Raya, 25 Januari 2020
Tinue Laut

Ranting-ranting yang patah Dan harapan-harapan Yang lelah,.... Hilang, Lalu mati. Dari mana dan kemana kita kan berlari? O...

HARAPAN-HARAPAN


Ranting-ranting yang patah
Dan harapan-harapan
Yang lelah,....
Hilang,
Lalu mati.

Dari mana dan kemana kita kan berlari?
Orang-orang kecil yang terhimpit peti mati
Ke lautan ratapan yang mungkin tidak lagi bertepi?
Apa kini yang tersisa?
Selain harapan dan mimpi?


Palangka Raya, 24 Januari 2020
Tinue Luut

Dalam ruang gelap.... "Ada Tuan, sang Penguasa?" Menari di bahunya, Jerami. "Siapakah aku, wahai Engkau yang maha meng...

DIA YANG PERGI


Dalam ruang gelap....
"Ada Tuan, sang Penguasa?"
Menari di bahunya, Jerami.
"Siapakah aku, wahai Engkau yang maha mengetahui? Mengapa Engkau menimpakan hina itu ke mukaku, hai kekasih hatiku?

Dalam ruang gelap, kosong!!
Campakkan cintamu pada selainnya
Kosongkan hatimu sebagai tempat pada selainnya.
untuk Dia maha kasih..
kepadanya, sang maha cinta

Dia yang berada di segela ruang
Meninggalkan kita sendirian
Membiarkan kita membasuh luka-luka perih ini sendirian
Pada apakah hatiku tertambat selain luka dan air mata?
Selain mati dan kecewa dan mengering dan sengsara.
Karena Dosa?  Dia pergi dan tidak kembali.

Seharusnya kau tak perlu mengutukiku, tuan.
Menimpakan butir-butir kehinaan itu di mukaku.
Menjadikan aku segala sebab kerusakan moral manusia, makhluk yang tak pernah kukehendaki kau jadikan.




Dalam Perjalan ke Muara Teweh
Tanggal tidak tercatat

Ku pejamkan mata Menerawang mimpi-mimpi indah... Membawa angan-anganku naik keatas... Memaksaku untuk meraihnya... Hidup tidak ...

MENGALIRLAH

Ku pejamkan mata
Menerawang mimpi-mimpi indah...
Membawa angan-anganku naik keatas...
Memaksaku untuk meraihnya...

Hidup tidak semulus air melewati daun keladi...
Goresan demi goresan ku hadapi...

Ya Tuhan...
Kuatkan akan imanku..
Tetap luruskan langkahku...
Untuk selalu tertuju padaMu

Ya Tuhan...
Engkau dimana?
Ku rindu hadirMu...
Ku rindu jamaahMu...
Ajarkan aku selalu berada dijalanMu



Palangka Raya, 25 Januari 2020
Lili Bellelove

Ku termenung sendiri... Duduk terdiam lemah terpaku... Kuratapi tapi tidak ada air mata... Inginku berteriak...! Meronta....! ...

KAU HILANG


Ku termenung sendiri...
Duduk terdiam lemah terpaku...
Kuratapi tapi tidak ada air mata...

Inginku berteriak...!
Meronta....!
Kumenangis...!
Tidak ada yang peduli...

Ayah...ibuuu...!
Aku lelah...!
Aku sakit...!
Bawalah aku bersama mu...

Ayah.. ibu...
Aku rindu kasih sayang mu...
Aku rindu tentang kita
Ayaahhh... ibuuu...
Aku rinduuuu...



Palangka Raya, 25 Januari 2020
Lili Bellelove

0 komentar:

"Mendekatkan si kecil dengan kampung bapaknya" sebenarnya hanya alasan. Atau dalih yang saya sampaikan ke istri untuk "m...

YANG LAMA YANG BERKESAN


"Mendekatkan si kecil dengan kampung bapaknya" sebenarnya hanya alasan. Atau dalih yang saya sampaikan ke istri untuk "membujuknya" memberikan persetujuan ngetrip "biar Glou (nama putri saya) lebih tahu dan lebih mengenal disinilah bapaknya bertumbuh, bermain, memanjat pohon, berenang menyebrang sungai Kapuas, menangkap ikan, berburu, berak, kencing, menyadap karet, mencari rotan, dan lain sebagainya" juga sesuatu yang dibuat-buat.

Misi sebenarnya adalah mnyegarkan kembali memori indah yang sudah lama terserak. Kenangan yang layak untuk diabadikan. Ya, kampung yang pernah saya tinggali selama 19 tahun ini memberikan banyak ingatan-ingatan indah, teman yang baik, tetangga yang murah senyum, masyarakatnya yang istimewa, dan mantan yang aduhai (hehehe..). Pada tahun 2007 kenangan itu kemudian terputus.

Dua belas tahun lalu saya meninggalkan kampung ini. Mencari peruntungan di negeri perantauan. Ingin merubah nasib. Tidak jauh memang, masih ke wilayah dengan kultur sosial yang kurang lebih sama. Tapi jarak-tak-jauh itu dengan kejam tidak memberi waktu yang banyak untuk saya kembali mencari makna hidup dengan saudara sekampung. Ia mengekang kaki-kaki saya untuk berlari, kembali membangun memori-memori yang manis, merekatkan kembali jalinan silaturahmi dengan saudara-saudara di sana. Sesekali saya hanya diberi kesempatan "mampir" barang satu dua malam.

Kampung ini sudah banyak berubah. Banyak hal-hal baru yang dimilikinya. Tapi, layaknya desa pada umumnya, dia berbenah tapi tidak bersolek. Dia memberi "solusi" sekaligus menciptakan "masalah" baru bagi kehidupan warganya. Dan sepertinya, dia menjadi besar untuk mengecilkan warganya (??).

0 komentar:

Tak berapa lama hujan turun kembali Membasahi setiap harapan yang sudah mengering Menenangkan hati yang semakin gelisah Hidup di ten...

LIHATLAH


Tak berapa lama hujan turun kembali
Membasahi setiap harapan yang sudah mengering
Menenangkan hati yang semakin gelisah
Hidup di tengah kemarau akhlak
Rasa kemanusiaan telah berlumut

Lihat
Lihatlah
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Dewi Ibu Pertiwi
Tanah luhur, tanah Dayak, tanah para pemberani
Dibakar habis, dilahap api nafsu bara membara
Demi materi dan kuasa

Lihat
Lihatlah
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Sang Putra Asang
Putra-putri-Nya
Menangis
Meronta
Pergi
Lapar
Dan mati
Di tanah leluhur tumpah darahnya sendiri

Hidup hanya menunggu mati
Sekali berarti kemudian kalah tak bermakna
Hidup hanya menunggu mati
Tuhanpun kini berlalu pergi

0 komentar:

SOP DAGING MENURUT sebuah sumber yang tidak bisa dipercaya, kenikmatan sebuah kuah baik bakso, soto atau sop berasal dari bumbu atau ...

SOP DAGING


SOP DAGING
MENURUT sebuah sumber yang tidak bisa dipercaya, kenikmatan sebuah kuah baik bakso, soto atau sop berasal dari bumbu atau rempah yang tidak diulek atau dihaluskan. Ia dimasak "utuh" atau "bulat" atau dimasak begitu saja tanpa ada proses ulek-ulekan atau blender-blenderan.

Seorang tukang bakso yang profesional bahkan akan memasukkan bumbu-bumbu tadi ke dalam sebuah kantong yang terbuat dari kain. "Kain itulah mungkin yang dianggap sebuah celana dalam." Ujar sumber tersebut menanggapi berita "Ada celana dalam di kuah bakso" yang sempat viral beberapa minggu yang lalu.

Tulisannya sangat menyakinkan. Serius sekali dia membuat tulisan yang seakan membela si pemilik "celana dalam" dalam kuah bakso tersebut. Hal itulah yang kemudian membuat saya nekat membuat sop daging dibawah ini.

Ternyata benar dugaan saya, sop ini tidak enak. Rasa bawang putih, bawang merah, serai, jahe dan cabenya begitu terasa. Begitu kuat merasuk ke pori-pori daging yang saya masak. Dagingnya empuk. Gurihnya kuah sop begitu membuncah. Rasa daun salam dan daun bawang yang khas turut serta melengkapi ketidak-nikmatan dan ketidak-gurihan kuah sop ini. Saking tidak enaknya, saya sampai secara reflek meneriakkan "Duuuhh gusstiiii......." menirukan Nces Nabati dalam acara Kulineran di sebuah tipi itu.

Ini tidak enak. Yakinlah. Saya hanya mampu menghabiskan tiga piring-penuh-nasi-hangat- hangat. Jangan dicoba di rumah. Terima kasih.

0 komentar:

Telah ditetapkan bagiku suatu tempat jauh diantara bumi dan langit. Tempat dimana segala yang jahat menerima hukuman. Bukankah dia yang...

Campakkan Cintamu Selain Pada-Nya

Telah ditetapkan bagiku suatu tempat jauh diantara bumi dan langit. Tempat dimana segala yang jahat menerima hukuman.

Bukankah dia yang maha kuasa, maha perkasa dan maha besar yang menciptakan semuanya? Bagaimana mungkin kemudian segala yang jahat dituduhkan berakar daripadaku? Lantas darimanakah aku mendapatkan kuasa atas segala yang jahat kalau bukan dari dia yang segala sumber permulaan? Apakah kau menyangsikan kemaha besaran kekasihku dan junjunganku itu?

Sungguh pilu hatiku. Sesak rasanya ombak hitam yang mendeburi jiwaku. Ku tinggalkan kekasihku hanya untuk menyenangkannya: agar dia tau manakah diantara ciptaannya yang mengingkari nikmatnya dan mendustakan bait sucinya.

Sungguh pilu hatiku, hai engkau yang maha mulia. Berpisah darimu kekasih hatiku kerena hukuman atas dosa yang ku lakukan demi taat kepada perintahmu bukan atas kehendakku. Dunia ini seakan tak sanggup menanggung bobot kepedihan hatiku. Hatiku telah menjadi abu terbakar oleh api kepedihan. Tidakkah barang setetes aku berhak atas manisnya air sucimu?


**
Di taman cintanya,
Ia menabur benih kepedihan.
Merawatnya dengan garam dan air asin
Demi mencintai yang esa ini.
Dengan cinta yang dapat dia terima,
Kosongkan benakmu dari selainnya
Campakkan cintamu pada selainnya
Lalu cinta-diri, lalu semua harapan,
Semua mimpi.
Terakhir campakkan pula cintamu padanya.
Karena dalam kehadirannya,
Tak pernah ada ruang tersisa bagimu.


** Diambil dari Novel Iblis Menggugat Tuhan Karya Ibn Shawni

0 komentar:

Suara-suara itu menghilang. Kalah dengan pikirannya, yang entah kenapa, lebih ribut lagi membayangkan sesuatu yang akan ditemuinya nanti. ...

APA HAKKU MENILAI TUHAN

Suara-suara itu menghilang. Kalah dengan pikirannya, yang entah kenapa, lebih ribut lagi membayangkan sesuatu yang akan ditemuinya nanti. "Matanya bersinar, pipinya pauh dilayang, delima merekah bibirnya, hidungnya dasun tunggal, lehernya jenjang, dadanya........" Bukit-bukit pasir pikirannya bergejolak ditiup desir angin lamunannya.

Ada sepasang kupu-kupu berkejar-kejaran. Sekejap hinggap di bunga-bunga berbagai warna. Berayun-ayun di bawah langit sore yang sudah berwarna api. Kawanan burung Enggang melintas. "Mungkin mereka ingin pulang. Pulang? Ke rumahnya? Bukankah alam inilah rumah mereka? Kata pulang kurasa tidak tepat." Alam adalah rumah bagi mereka dan segala jenis binatang. Tuhanlah yang memberi hak. Manusialah yang merampas. "Tidak tahu malu."

Semburan asap kretek keluar dari mulutnya. Masih sisa satu batang. "Besok aku harus bekerja lagi untuk mengasapi mulutku. Ya, begitulah aku seharusnya menjalani hidup."

Suara-suara orang di sekelilingnya, ada 5 atau 7 orang mungkin, dia tidak perduli, semua perempuan, berkeringat, menghilang. Yang terlihat hanya seungguk daging kenyal berkomat-kamit tanpa suara. Bisu. Seperti suara burung Enggang yang tadi mengepak-ngepakkan sayap di atas langit yang mulai memerah yang lenyap seiring tak terlihatnya bulu-bulu hitam legamnya tertutup pohon-pohon tinggi yang berjejer diatas bukit batu. Daun-daunnya melambai-lambai menandakan mereka ingin menyerah menjalani hidup yang teramat keras ini. "Lihatlah sekeliling kami, sebentar lagi kamipun akan bernasib sama." Begitu mungkin maksud pepohonan itu yang bisa dimaknai oleh Tras.

Taman di sebelah kiri dari tempatnya duduk terlihat menarik hati. Berwarna-warni. "Mengapa bunga-bunga ini berbeda warna? Apakah penyebabnya sinar matahari yang juga berwarna-warni? Begitukah si Tukang Taman mendisainnya? Menempatkan bunga beda warna sekenanya tapi indah dipandang mata. Sengajakah Ia menempatkan demikian sehingga perannya tak kasatmata?" Benak Tras menjadi benang kusut. Bayangan bidadari Surganya dikaburkan oleh pikiran remeh temeh, yang menurutnya tidak kalah penting dengan memikirkan nasib negeri ini dan negeri-negeri lain yang mengerkah negeri ini.

Tapi kupu-kupu itu. Apakah mereka benar berpasangan? Si jantan seperti ingin memikat se betina. Atau mungkin ingin mengigitnya? Meremuknya? Saling memangsa atau beradu kekuatan?

"Aku tidak tahu banyak mengenai diri sendiri, kenapa aku harus memikirkan pikiran seperti ini?" Ia sangat terkejut mengucapkan kalimat aneh itu.

"Yang kutemui nanti....."
Terbentang lagi pikiran itu. Ia sekarang berhadapan dengan pikirannya sendiri, berusaha membunuhnya. Pikiran yang tidak diinginkannya sama sekali tapi menyenangkan ketika pikiran itu datang.

"Aah..."

"Yang kutemui nanti..."
Ia membayangkan wajah gadis itu seperti suasana yang selalu digambarkan orang tentang surga. "Bukan. Ia bisa jadi seorang penghuni surga. Atau, mungkin penguasa surga? Mungkin saja. Setidaknya begitu orang mengatakannya, ada seorang raja, atau ratu, yang bertahta disana. Berkuasa tiada berbatas. Ungkapan yang membuat setiap orang merindukanNya, seperti Adam yang sepi sendiri merindukan pendampingnya lalu diciptakanlah Siti Hawa. Begitu seharusnya Tuhan menjawab setiap doa. Memberi tanpa pamrih, dipuji-puji. Atau begitu seharusnya orang berdoa, seperti Adam, meminta hanya yang perlu.

Begitu seharusnya Tuhan menjawab setiap doa, memberi tanpa harus memperhitungkan seberapa besar ia dapat kembali: puji-pujian dan ketaatan. Tidak ada gunanya, menurut Tras, pemberian yang sedikit ini jika diberikan kepada yang Maha Memiliki.

 "Tapi apa hakku menilai Tuhan? Bukankah ciptaan tidak pernah lebih baik dari Yang Menciptakan?" Tras kembali memikirkan pikiran lain. Otaknya, menurutnya, bagai bukit-bukit pasir di padang gurun, angin sepelan apapun bisa membawanya kemana-mana. Kabut tebal menyelimuti hatinya. Pikirannya.

"Tras, pergilah ke dalam gua. Tenangkan pikiranmu disana. Berlindunglah di bawah kakiNya."

Suara Sahabat, yang menurut pikirannya, adalah suara yang harus diterimanya, apa saja, karena memang seharusnya demikian.

0 komentar:

As the pains growing up Seandainya saja, Mir, hanya ada orang baik belaka yang akan membantumu menanam sayur, yang akan mengajarimu mema...

HOPELESS HOPES

As the pains growing up

Seandainya saja, Mir, hanya ada orang baik belaka yang akan membantumu menanam sayur, yang akan mengajarimu memasak, mengajarimu menari, mengajarimu berdandan. Mengajarimu bahasa. Mengajarimu berhitung. Seandainya tidak ada penghujan tidak ada kemarau. Tidak ada siang tidak ada malam. Tidak ada malaikat. Tidak ada tuhan. Tidak ada iblis. Tidak ada kamu tidak ada aku. Seandainya, Mir. Seandainya.

Seandainya seandai tidak ada. Tidak ada seandai tidak ada kalau. Atau walau. Atau mungkin. Atau waktu. Seandainya tidak ada benci. Seandainya semuanya tidak ada. Seandainya tidak ada apapun, apakah tuhan masih ada, Mir? Tapi seandainya itu memang tidak ada kan, Mir?

Mir?

Kemarin juga tidak ada. Nanti juga tidak ada. Besok juga tidak ada. Yang ada hanya sekarang. Sekarang? Dan ada Aku yang sekarang, bukan Aku yang nanti. Tapi Aku yang kemaren bagaimana, Mir? Aku yang kemaren lah yang menyakiti Aku yang sekarang. Bukan. Bukan! Tapi kamu, Mir. Kamu! Kamulah orang yang meninggalkanku. Dengan pikiran ini. Dengan khayal ini. Dengan sakit ini. Dengan tembok ini. Dengan waktu ini. Dengan iman ini. Dengan kata-kata ini.

Kata-kata ini hantu, Mir. Dia terus saja ada. Menghantuiku. Kata-kata tidak pernah habis. Entah siapa yang memproduksinya dalam otakku ini. Ia selalu ada. Dia berteriak. Mendesakku. Meminta segera dikeluarkan. Pernah aku membentaknya, Dia melawan dan melukaiku. Kadang Aku berpikir akan lebih baik seandainya Kata tidak pernah ada. Tidak ada bahasa. Tidak ada lidah. Tidak ada suara. "Tanpa suara kisah percintaan ini tidak akan menggairahkan, Di." Begitu katamu, Mir. Kau pernah mengucapkan itu. Ada apa denganmu, Mir? Seandainya tidak ada Firman, kata-katamu, Mir, Aku pasti akan lebih baik. Aku pasti tidak akan berbicara dengan tembok-tembok ini.

Mir?