Brokoli, anak kedua bu Theles, hidup bersama keresahan. Ia menguji Kebahagiaan, meragukan Keikhlasan, mempertanyakan Kemanusiaan dan menyang...

Brokoli, anak kedua bu Theles, hidup bersama keresahan. Ia menguji Kebahagiaan, meragukan Keikhlasan, mempertanyakan Kemanusiaan dan menyangsikan Ketulusan, juga Tuhan.

Di usianya yang mendekati 10 tahun, tubuhnya lambat bertumbuh, hanya 14 kilo, tapi pikirannya menua begitu cepat. Ia termenung banyak bingung. Ia bertanya sering lupa.

Satu hal baginya yang selalu datang adalah kematian atau setidaknya perpisahan. Britali, kakak perempuannya yang ranum, mati dimangsa tipus seminggu yang lalu; Pak Theles, ayahnya, seseorang yang senang berburu, hilang "dimakan" hutan dua tahun yang lalu; neneknya, yang setia menyanyikan sansana untuknya, dikalahkan tbc dan dimakamkan sebelas bulan yang lalu; dan bu Theles pergi ke kota, entah kapan akan kembali. 

Dulu saat ayahnya masih ada, kebahagiaannya ada di atas pohon: memanen madu, memetik Keranji, Puan dan Dango, atau bergelantungan dengan Bajakah. Saat ini kebahagiaan itu hanya datang saat ia bermain bersama pikirannya.

Brokoli adalah hati dan mata.......

Bagian #1

Seberapa besar kah IQ mu? Coba tes IQ mu sekarang disini  http://memorado.eu/iqtest Tulis hasil tes mu di kolom komentar yaa... Selamat...

Seberapa besar kah IQ mu? Coba tes IQ mu sekarang disini http://memorado.eu/iqtest

Tulis hasil tes mu di kolom komentar yaa...
Selamat mencoba....

Aplikasi Kinemaster terbaru download gratis di link berikut https://bit.ly/kinemasterProV413 Selamat mencoba aplikasi editing vid...

Aplikasi Kinemaster terbaru download gratis di link berikut


Selamat mencoba aplikasi editing video android terbaik

CATATAN: 
PASSWORD SILAKAN DILIHAT DI CHANNEL YOUTUBE: TINUE LAUT

Tak berapa lama hujan turun kembali Membasahi setiap harapan yang telah mengering Menenangkan hati yang semakin gelisah Hidup di ...



Tak berapa lama hujan turun kembali
Membasahi setiap harapan yang telah mengering
Menenangkan hati yang semakin gelisah
Hidup di tengah kemarau akhlak
Rasa kemanusiaan telah berlumut

Lihat.....!!
Lihatlah............!!
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Dewi Ibu Pertiwi
Tanah luhur, tanah Dayak, tanah para pemberani
Dibakar habis, dilahap api nafsu bara membara
Demi materi dan kuasa

Lihat.......!
Lihatlah...........!
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Sang Putra Asang
Putra-putri-Nya
Menangis
Meronta
Pergi
Lapar
Dan mati
Di tanah leluhur tumpah darahnya sendiri

Hidup hanya menunggu mati
Sekali berarti kemudian kalah tak bermakna
Hidup hanya menunggu mati
Tuhanpun kini meninggalkan kita, pergi!


Jakarta, tanggal tidak tercatat
Tinue Laut

Dengarlah nyanyian sunyiku Suara risau bait resahku Duka-luka padaku Meredupkan cahaya terang pagi Kesepian datang mengirisku pi...


Dengarlah nyanyian sunyiku
Suara risau bait resahku
Duka-luka padaku
Meredupkan cahaya terang pagi
Kesepian datang mengirisku pilu

Kerinduan itu......
Bagai gelap malam hari
Merangsek masuk membunuh warasku
Menyalakan gelisah, sedih, dan sunyiku
Membutakan mata sehat akalku

Seandainya cinta-MU
Serupa lilin-lilin yang menyala memerangi gelap,
Seperti air memadamkan kobaran amarah,
Sebagaimana rahim ibu: merawat kehidupan, meneguhkan yang lemah dan rapuh.

"Tidak perlu lagi kau senandungkan aku melodi-melodi gelisahmu itu."
Begitu katamu suatu senja.
Kau sengaja membiarkanku jatuh ke dalam lumpur-lumpur kepedihan.
Bermain bersama debur ombak kepahitan.

Biarlah,
Kutenggelamkan semua rasa ini
Menikmati indahmu dari kejauhan.

Kukepalkan impian
Pekik dan derap langkah menghalau kerisauan
Aku pasti tak akan bercerita pada tembok gereja ini.


Palangka Raya, 25 Januari 2020
Tinue Laut

Ranting-ranting yang patah Dan harapan-harapan Yang lelah,.... Hilang, Lalu mati. Dari mana dan kemana kita kan berlari? O...


Ranting-ranting yang patah
Dan harapan-harapan
Yang lelah,....
Hilang,
Lalu mati.

Dari mana dan kemana kita kan berlari?
Orang-orang kecil yang terhimpit peti mati
Ke lautan ratapan yang mungkin tidak lagi bertepi?
Apa kini yang tersisa?
Selain harapan dan mimpi?


Palangka Raya, 24 Januari 2020
Tinue Luut

Dalam ruang gelap.... "Ada Tuan, sang Penguasa?" Menari di bahunya, Jerami. "Siapakah aku, wahai Engkau yang maha meng...


Dalam ruang gelap....
"Ada Tuan, sang Penguasa?"
Menari di bahunya, Jerami.
"Siapakah aku, wahai Engkau yang maha mengetahui? Mengapa Engkau menimpakan hina itu ke mukaku, hai kekasih hatiku?

Dalam ruang gelap, kosong!!
Campakkan cintamu pada selainnya
Kosongkan hatimu sebagai tempat pada selainnya.
untuk Dia maha kasih..
kepadanya, sang maha cinta

Dia yang berada di segela ruang
Meninggalkan kita sendirian
Membiarkan kita membasuh luka-luka perih ini sendirian
Pada apakah hatiku tertambat selain luka dan air mata?
Selain mati dan kecewa dan mengering dan sengsara.
Karena Dosa?  Dia pergi dan tidak kembali.

Seharusnya kau tak perlu mengutukiku, tuan.
Menimpakan butir-butir kehinaan itu di mukaku.
Menjadikan aku segala sebab kerusakan moral manusia, makhluk yang tak pernah kukehendaki kau jadikan.




Dalam Perjalan ke Muara Teweh
Tanggal tidak tercatat

Ku pejamkan mata Menerawang mimpi-mimpi indah... Membawa angan-anganku naik keatas... Memaksaku untuk meraihnya... Hidup tidak ...

Ku pejamkan mata
Menerawang mimpi-mimpi indah...
Membawa angan-anganku naik keatas...
Memaksaku untuk meraihnya...

Hidup tidak semulus air melewati daun keladi...
Goresan demi goresan ku hadapi...

Ya Tuhan...
Kuatkan akan imanku..
Tetap luruskan langkahku...
Untuk selalu tertuju padaMu

Ya Tuhan...
Engkau dimana?
Ku rindu hadirMu...
Ku rindu jamaahMu...
Ajarkan aku selalu berada dijalanMu



Palangka Raya, 25 Januari 2020
Lili Bellelove

Ku termenung sendiri... Duduk terdiam lemah terpaku... Kuratapi tapi tidak ada air mata... Inginku berteriak...! Meronta....! ...


Ku termenung sendiri...
Duduk terdiam lemah terpaku...
Kuratapi tapi tidak ada air mata...

Inginku berteriak...!
Meronta....!
Kumenangis...!
Tidak ada yang peduli...

Ayah...ibuuu...!
Aku lelah...!
Aku sakit...!
Bawalah aku bersama mu...

Ayah.. ibu...
Aku rindu kasih sayang mu...
Aku rindu tentang kita
Ayaahhh... ibuuu...
Aku rinduuuu...



Palangka Raya, 25 Januari 2020
Lili Bellelove

"Mendekatkan si kecil dengan kampung bapaknya" sebenarnya hanya alasan. Atau dalih yang saya sampaikan ke istri untuk "m...


"Mendekatkan si kecil dengan kampung bapaknya" sebenarnya hanya alasan. Atau dalih yang saya sampaikan ke istri untuk "membujuknya" memberikan persetujuan ngetrip "biar Glou (nama putri saya) lebih tahu dan lebih mengenal disinilah bapaknya bertumbuh, bermain, memanjat pohon, berenang menyebrang sungai Kapuas, menangkap ikan, berburu, berak, kencing, menyadap karet, mencari rotan, dan lain sebagainya" juga sesuatu yang dibuat-buat.

Misi sebenarnya adalah mnyegarkan kembali memori indah yang sudah lama terserak. Kenangan yang layak untuk diabadikan. Ya, kampung yang pernah saya tinggali selama 19 tahun ini memberikan banyak ingatan-ingatan indah, teman yang baik, tetangga yang murah senyum, masyarakatnya yang istimewa, dan mantan yang aduhai (hehehe..). Pada tahun 2007 kenangan itu kemudian terputus.

Dua belas tahun lalu saya meninggalkan kampung ini. Mencari peruntungan di negeri perantauan. Ingin merubah nasib. Tidak jauh memang, masih ke wilayah dengan kultur sosial yang kurang lebih sama. Tapi jarak-tak-jauh itu dengan kejam tidak memberi waktu yang banyak untuk saya kembali mencari makna hidup dengan saudara sekampung. Ia mengekang kaki-kaki saya untuk berlari, kembali membangun memori-memori yang manis, merekatkan kembali jalinan silaturahmi dengan saudara-saudara di sana. Sesekali saya hanya diberi kesempatan "mampir" barang satu dua malam.

Kampung ini sudah banyak berubah. Banyak hal-hal baru yang dimilikinya. Tapi, layaknya desa pada umumnya, dia berbenah tapi tidak bersolek. Dia memberi "solusi" sekaligus menciptakan "masalah" baru bagi kehidupan warganya. Dan sepertinya, dia menjadi besar untuk mengecilkan warganya (??).

Tak berapa lama hujan turun kembali Membasahi setiap harapan yang sudah mengering Menenangkan hati yang semakin gelisah Hidup di ten...


Tak berapa lama hujan turun kembali
Membasahi setiap harapan yang sudah mengering
Menenangkan hati yang semakin gelisah
Hidup di tengah kemarau akhlak
Rasa kemanusiaan telah berlumut

Lihat
Lihatlah
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Dewi Ibu Pertiwi
Tanah luhur, tanah Dayak, tanah para pemberani
Dibakar habis, dilahap api nafsu bara membara
Demi materi dan kuasa

Lihat
Lihatlah
Lihatlah ke dalam setiap hati
Lihatlah Sang Putra Asang
Putra-putri-Nya
Menangis
Meronta
Pergi
Lapar
Dan mati
Di tanah leluhur tumpah darahnya sendiri

Hidup hanya menunggu mati
Sekali berarti kemudian kalah tak bermakna
Hidup hanya menunggu mati
Tuhanpun kini berlalu pergi

SOP DAGING MENURUT sebuah sumber yang tidak bisa dipercaya, kenikmatan sebuah kuah baik bakso, soto atau sop berasal dari bumbu atau ...


SOP DAGING
MENURUT sebuah sumber yang tidak bisa dipercaya, kenikmatan sebuah kuah baik bakso, soto atau sop berasal dari bumbu atau rempah yang tidak diulek atau dihaluskan. Ia dimasak "utuh" atau "bulat" atau dimasak begitu saja tanpa ada proses ulek-ulekan atau blender-blenderan.

Seorang tukang bakso yang profesional bahkan akan memasukkan bumbu-bumbu tadi ke dalam sebuah kantong yang terbuat dari kain. "Kain itulah mungkin yang dianggap sebuah celana dalam." Ujar sumber tersebut menanggapi berita "Ada celana dalam di kuah bakso" yang sempat viral beberapa minggu yang lalu.

Tulisannya sangat menyakinkan. Serius sekali dia membuat tulisan yang seakan membela si pemilik "celana dalam" dalam kuah bakso tersebut. Hal itulah yang kemudian membuat saya nekat membuat sop daging dibawah ini.

Ternyata benar dugaan saya, sop ini tidak enak. Rasa bawang putih, bawang merah, serai, jahe dan cabenya begitu terasa. Begitu kuat merasuk ke pori-pori daging yang saya masak. Dagingnya empuk. Gurihnya kuah sop begitu membuncah. Rasa daun salam dan daun bawang yang khas turut serta melengkapi ketidak-nikmatan dan ketidak-gurihan kuah sop ini. Saking tidak enaknya, saya sampai secara reflek meneriakkan "Duuuhh gusstiiii......." menirukan Nces Nabati dalam acara Kulineran di sebuah tipi itu.

Ini tidak enak. Yakinlah. Saya hanya mampu menghabiskan tiga piring-penuh-nasi-hangat- hangat. Jangan dicoba di rumah. Terima kasih.

Telah ditetapkan bagiku suatu tempat jauh diantara bumi dan langit. Tempat dimana segala yang jahat menerima hukuman. Bukankah dia yang...

Telah ditetapkan bagiku suatu tempat jauh diantara bumi dan langit. Tempat dimana segala yang jahat menerima hukuman.

Bukankah dia yang maha kuasa, maha perkasa dan maha besar yang menciptakan semuanya? Bagaimana mungkin kemudian segala yang jahat dituduhkan berakar daripadaku? Lantas darimanakah aku mendapatkan kuasa atas segala yang jahat kalau bukan dari dia yang segala sumber permulaan? Apakah kau menyangsikan kemaha besaran kekasihku dan junjunganku itu?

Sungguh pilu hatiku. Sesak rasanya ombak hitam yang mendeburi jiwaku. Ku tinggalkan kekasihku hanya untuk menyenangkannya: agar dia tau manakah diantara ciptaannya yang mengingkari nikmatnya dan mendustakan bait sucinya.

Sungguh pilu hatiku, hai engkau yang maha mulia. Berpisah darimu kekasih hatiku kerena hukuman atas dosa yang ku lakukan demi taat kepada perintahmu bukan atas kehendakku. Dunia ini seakan tak sanggup menanggung bobot kepedihan hatiku. Hatiku telah menjadi abu terbakar oleh api kepedihan. Tidakkah barang setetes aku berhak atas manisnya air sucimu?


**
Di taman cintanya,
Ia menabur benih kepedihan.
Merawatnya dengan garam dan air asin
Demi mencintai yang esa ini.
Dengan cinta yang dapat dia terima,
Kosongkan benakmu dari selainnya
Campakkan cintamu pada selainnya
Lalu cinta-diri, lalu semua harapan,
Semua mimpi.
Terakhir campakkan pula cintamu padanya.
Karena dalam kehadirannya,
Tak pernah ada ruang tersisa bagimu.


** Diambil dari Novel Iblis Menggugat Tuhan Karya Ibn Shawni